Submit Your Site To The Web's Top 50 Search Engines for Free!

Search Engine Optimization SEO

worldwideptr.com

Minggu, 29 November 2009

Pohon Mangga Berhantu

Cerita ini saya tulis,karena saya teringat sama kampung halaman...hehe!!!kangen dengan keadaan kampung,juga dengan kawan-kawan sepermainan dulu.
Oke,saya gak panjang lebar neh...(tar kelamaan baca ceritanya).Awal mengapa saya kasih judul "Pohon Mangga Berhantu"...begini ceritanya...saat itu,seperti hari-hari biasanya saya dan teman-teman saya selalu bergadang hingga subuh,maklum...kami dulu belum punya pekerjaan yang tetap.
Saat itu tepat pada malam jum'at kliwon,biasanya orang-orang selalu mendefinisikan,kalo malam jum'at kliwon itu adalah malam yang menakutkan,malam yang sakral,malam di mana hantu-hantu pada gentayangan.Namun...tidak bagi kami,karena kami selalu bergadang sambil meronda tiap hari dan tidak pernah menemukan keganjilan apa-apa.
Mungkin...saat itulah tepatnya kami mendapatkan keganjilan tersebut.Saat itu,kami bergadang seperti biasanya,sambil main kartu remi dan bakar-bakar singkong (cabut punya tetangga) hehe...dan minum kopi,kami asyik dan enjoy saja,karena selain main kartu,kamipun bernyanyi-nyanyi (walau suara sumbang...haha),karena tak mungkin semua harus bermain kartu,kan kalo maen kartu,otomatis pandangan kita konsentrasi ke kartu,bukan ke jalanan,tar kalo ada orang yang tak dikenal lewat dan ngebongkar rumah orang,kami pula yang bakal kena tanya warga,ya toh...?
Nah...tidak lama kemudian,ada satu temanku yang ngajak aku buat ambil mangga di halaman masjid.Sebenarnya aku takut juga karena mengingat hari itu malam jum'at kliwon,tapi karena selama itu kami tak pernah mendapatkan keganjilan apa-apa,jadinya akupun tenang-tenang saja.Pohon mangga tersebut memang terletak di halaman masjid tempat lingkungan kami tinggal,tapi...suasana di tempat tersebut menyeramkan...gimana gak seram,karena bangunan masjid dilingkungan kami merupakan bangunan bekas tahanan pada saat jaman Belanda,tempatnya kurang penerangan,lagi...(penghematan,sech...!).Dan sebelum dibangun menjadi masjid,kadang ada warga kami yang apa bila mereka pulang larut malam dan melewati masjid tersebut,suka ada bunyi-bunyi macam orang meraung kesakitan dan menangis-nangis...(hiiiih,serem).
"Kita ambil mangga,yu...!"ajaknya padaku.
"Untuk apa malam-malam begini ambil mangga?"tanyaku.
"Ya...buat dimakan,lah...masa buat dibuang!"
"Okelah..."
Lalu kami pergi beranjak dari tempat kami kumpul tadi.Awalnya aku agak takut juga,karena perasaanku memang tidak enak.
"Kenapa,kamu?"tanya temanku.
"Tak apa-apa..."jawabku.
"Hayo...kamu takut hantu,yah?hehe...gak usah takut,mana ada hantu di pohon mangga!"katanya.
"Baiklah,bagaimana cara ambil mangganya?naik apa kita lempari dengan batu?"tanyaku.
"Kita lempari aja dulu,kalo tak dapat-dapat,baru kita naik..."jawabnya.
Sedang asyik-asyiknya kami melempari mangga,teman-temanku yang tadi kami tinggal pada menyusul kami.Dan karena mereka melihat kami dari tadi belum mendapatkan mangganya (walau dah dilempari beberapa kalipun)...mereka ikutan pula melempari,akhirnya satu-dua mangga kita dapati,dan karena merasa kalo cuma dapat 2buah mangga gak bakal cukup,kami terus melempari pohon mangga itu lagi.
Di saat itulah,entah sudah berapa kali lemparan (karena memang mangganya belum kita dapati lagi),karena kami masih mendapatkan 2buah mangga tersebut,tiba-tiba...batu yang dilempar oleh kawanku,sepertinya tidak ada kembali ke bawah,pada hal...batu tersebut sebesar kepalan tangan kita...(tau sendiri,donk...).Namun,karena saking penasarannya,kami terus mencoba melempar lagi,aneh...batu yang kami lempar bisa kembali lagi!tapi tak dapatin mangganya.Karena saking keselnya dah beberapa kali dilempari belom dapat-dapat juga,salah satu kawanku (memang cukup pemberani),nekad naik ke atas pohon mangga tersebut.
"Hei...hei...sudah,gak usah dilempari lagi,biar aku naik aja ke atas dan kalian tunggu di bawah saja,untuk tangkap mangganya!"katanya.
"Okelah...!"jawab kami serempak.
Kemudian dia beringsut untuk menaiki pohon mangga tersebut,akhirnya...tiga hingga lima mangga kita dapati.Tapi...kemudian dia lama tak melemparkan mangganya lagi.
"Hei...ada apa?kok mangganya tak dilemparkan lagi?"tanya kami dari bawah pohon mangga tersebut.
Keadaan di daerah halaman masjid itu memang agak gelap,karena tak ada penerangan lampunya,kami tidak bisa dengan jelas melihat apa yang terjadi pada teman kami di atas pohon mangga tersebut.
Tapi,tak lama kemudian,dia menjawab,"Sebentar...kakiku digigitin semut rang-rang neh...kayanya aku turun ajalah,tak tahan kakiku digigitin terus!"
Akhirnya dia turun,dan kami yang di bawah merasa kecewa juga,karena mangga yang kita dapati dirasa belum mencukupi.Dan...(tau sendiri...) kami mencoba mengulangi melempari mangganya,tapi belum kena-kena juga sasarannya.Sedang asyik-asyiknya kami melempari,temanku yang tadi habis naik pohon mangga tersebut mendekati dan berbisik,"Kemari sebentar..." (sambil menarikku menjauh sedikit dari temanku yang lainnya).
"Ada apa?"tanyaku.
"Tadi...waktu aku di atas agak lama,sebenarnya bukan karena aku mengusir semut-semut yang menggigit kakiku,tapi..."
"Tapi apa?"tanyaku penasaran.
"Tapi...di atas pohon mangga tadi aku melihat satu kaki putih mulus,dan...dan tidak ada kaki satunya lagi,setelah aku teliti,ternyata kaki itu memang cuma ada satu tergantung di dahan pohon mangga tersebut...hiiih...ngeri,dech!"katanya panjang lebar.
"Jadi...?"tanyaku agak takut-takut juga.
"Jadi,ya kita lari dan tinggalin pohon mangga ini,dari pada tar dia nampakin diri ke bawah...!"katanya masih sambil berbisik.
"Lalu,yang lain bagaimana?"tanyaku.
"Yang lain aku kasih tau dengan bisik-bisik pula,sekarang kamu pergi dulu menjauh,tar setelah aku kasih tahu yang lainnya,kami akan berlari menghampirimu,oke?"katanya pelan tapi pasti.
Lalu aku pergi menjauh dengan mengendap-endap,karena tak enak kalo ampe yang lainnya tahu dan berisik memanggilku...hehe.
Aku perhatikan dari jarak aku berdiri yang tak jauh dari teman-temanku tadi,temanku yang satu tadi sedang membisiki mereka,dan...tak lama kemudian mereka berlari-larian menghampiriku,dan akupun kemudian ikut berlari bersama-sama mereka.
Nah...mulai dari saat itulah kami tidak pernah mau lagi bergadang dan melempari mangga di halaman masjid malam-malam.Kami ambil mangga jadi siang-siang...(itupun kalo mau ngerujak)!!!

0 komentar: